Cacink'an

Rabu, 16 Mei 2012

Laporan Praktikum Fisika Dasar

1.      PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Satu sifat sel yang universal adalah membrane pembatas diluar membran sel ini berguna sebagai interfase mesin-mesin di bagian dalam sel dan fluida cair yang membasahi semua sel.
Transpor aktif adalah gerakan ion dan molekul melawan gradien konsentrasi. Proses transportasi aktif ini memerlukan energy juga memerlukan enzim yang terdapat dalam membrane sel, yang berguna dalam memindahkan molekul dan ion dari tempat konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi.
Transpor aktif dibedakan menjadi 2 yang pertama difusi, difusi adalah gerakan molekul secara acak dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Osmosis adalah difusi air melalui selaput yang permeable secara differensial dari suatu tempat konsentrasi tinggi ke tempat berkonsentrasi rendah.

1.2  Maksud dan Tujuan
Praktikum ini dimaksudkan agar prktikan dapat mengamati dan mengenali terjadinya peristiwa difusi dan osmosis serta mengetahui perbedaannya.
Adapun tujuan dari dari praktikum fisika dasar tentang transport membran sel adalah untuk mengamati beberapa sifat system cairan ekstra dan intra seluler dimana salah satu kompartemen mengandung molekul yang dibatasi oleh suatu membrane yang tidak permeable terhadap bahan tersebut.

1.3  Waktu dan Tempat
Praktikum fisika dasar ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 14 oktober 2011 pukul 17.00-19.00 WIB. Bertempat di laboratorium Ilmu-Ilmu Perairan (IIP) gedung C Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.


















2.      TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Pengertian Transpor Membran Sel
2.1.1        Transpor Membran
Setiap sel yang hidup harus selalu memasukkan materi yang diperlukan dan membuang sisa metabolismenya. Sel selalu memasukkan dan mengeluarkan konsentrasi di dalam. Sel selalu memasukkan dan mengeluarkan ion-ion tertentu. Pengaturan keluar dan masuknya materi ke dalam dan keluar sel sangat dipengaruhi oleh permeabilitas membrane (Pudjianto, 2006).
Salah satu fungsi dari membrane sel adalah lalu lintas molekul dan ion secara dua arah. Molekul yang dapat melalui membrane sel antara lain molekul hidrofolik dan molekul polar yang sangat kecil (air etanol). Sementara itu, molekul lainnya seperti molekul polar dengan ukuran besar. Lalu lintas membrane digolongkan menjadi dua cara yaitu transport aktif dan transport pasif (Aryo, 2007).
Jika kita membandingkan sel darah merah atau tidak memberikan glukosa atau racun yang dapat menghalangi penggunaan energy di dalam sel, maka kalium akan menembus ke luar dan natrium akan menembus masuk sampai terjadi kesetimbangan (Nadjoeb, 2009).
2.1.2        Difusi
Merupakan proses perpindahan atau pergerakan molekul zat dari konsentrasi tinggi ke rendah. Terdapat tiga mekanisme yang melalui membrane yakni difusi sederhana, difusi melalui saluran yang terbentuk oleh protein trans membrane dan difusi fakulitas (Bun Liagurita, 2008).
Difusi adalah molekul yang bergerak secara bebas dari area yang konsentrasinya tinggi ke area yang konsentrasinya rendah (Wallace, 2000).
2.1.3        Osmosis
Osmosis adalah perpindahan air maupun larutan yang melalui membrane permeable selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat (Amintukin, 2008).
Osmosis dilakukan dengan cara memberikan tekanan pada bagian larutan dengan konsentrasi rendah, sehingga air akan mengalir dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Proses perpindahan larutan merupakan hasil dari membrane semi permeable dan tekanan yang diberikan adalah tekanan hidrostaltik (Shim dan Lim, 2001).
2.2  Hubungan Konsentrasi Dengan difusi dan Osmosis
Laju difusi antara lain tergantung pada suhu dan densitas (kepadatan medium). Gas berdifusi lebih cepat dibandingkan dengan zat cair. Sedangkan zat padat berdifusi lebih lambat daripada zat cair. Molekul besar lebih lambat pergerakan disbanding dengan molekul yang lebih kecil (Riondi, 2009).
Dalam proses osmosisterdapat tekanan osmosis yang merupakan tekanan hidostatik yang terdapat suatu larutanakan mengikat dan juga meningkatkan kemampuan difusi larutan. Tekanan yang diberi atau sering disebut potensial tekanan/tekanan turgor (Morrigan,2008).



2.3  Mekanisme Osmosis dan Difusi
2.3.1        Mekanisme Difusi
Difusi merupakan perpindahan atau pergerakan molekul zat atau gas dari konsentrasi tinggi ke rendah. Difusi melalui membrane dapat berlangsung melalui tiga mekanisme yaitu difusi sederhana, melalui saluran yang terbentuk dari protein trans membrane dan difusi difasilitasi (Aurilia, 2008).
Difusi sederhana melalui membrane berlangsung karena molekul-molekul yang berpindah atau bergerak melalui membrane bersifat larut dalam lemak sehingga dapat menembus lipid bilayer pada membrane secara langsung seperti hormone steroid, vitamin (A, D, E, K) serta bahan-bahan yang larut dalam lmak, selain itu membrane sel juga sangat permeable terhadap molekul organic seperti O2, CO2, H2O. Beberapa molekul kecil khusus yang terlarut dalam ion-ion tertentu dapat menembus membrane melalui saluran. Saluran ini terbentuk dari protein trans membrane seperti pori dengan diameter lebih kecil dari pori tersebut dapat melaluinya, sementara molekul-molekul berukuran besar asam amino, glukos, dan beberapa garam mineral tidak dapat menembus membrane secara langsung (Aurilia, 2008).
2.3.2        Mekanisme Larutan (Osmosis)
Osmosis adalah proses perpindahan molekul zat pelarut. Dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi. Ditempatkan 2 larutan glukosa sebagai zat terlarut dengan konsentrasi yang berbeda dan dipisahkan oleh selaput selektif permeable, maka air dari larutan konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi melalui selaput permeable (Aurilia, 2008).
Penyebab utama osmosis adalah penurunan potensial kimia dalam larutan harusditekankan bahwa termodinamikadan persamaan yang berasal dari itu menceritakan apa-apa menggunakan tingkat osmosis/mekanisme. Beberapa kemungkinan telah diselidiki, seperti yang akan dikembangkan kelas dapat membedakan antara gaya yang akan diterapkan baik gradient tekanan/konsentrasi suatu aliran air (Nicholas, 1998).
2.4  Sifat Darah Ikan
Eritrosit merupakan sel yang banyak jumlahnya. Inti sel eritrosit terletak sentral dengan sitoplasmadan akan terlihat jernih kebiruan dengan pewarna glensa seperti halnya hemotrokit kadar eritrosit yang rendah menunjukkan terjadinya anemia. Sedangkan kadar darah tinggi menunjukkan bahwa ikan dalam keadaan stress. Leukosit mempunyai bentuk lonjong atau bulat, tidak berwarna, dan jumlahnya tiap mm3 darah ikan berkisar 20.000-150.000 butir serta merupakan unit yang aktif dari system pertahanan (imun) tubuh. Sel-sel leukosit akan ditransport secara khusus ke daerah terinfeksi (Aria, 2008).
Limfosit memiliki peranan dalam respon imunitas dan menosif merupakan sel mikrofag yang berperan penting dalam memfagosit. Mikroorganisme fagosit/pathogen. Sedangkan trombosit sangat berperan dalam proses pembekuan darah dan berfungsi untuk menegah kehilangan cairan tubuh pada kerusakan-kerusakan di permukaan (Bagus, 1995).







2.5  Klasifikasi Ikan Nila
Menurut Daude (1999), klasifikasi ikan nila adalah :
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Chordata
Kelas              : Actinopterygi
Ordo               : Porciformes
Famili              : Cicidae
Genus              : Oreochromis
Spesies            : Oreochromis niloticus

Menurut Linnaeus (1785),klasifikasi ikan nila adalah :
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Chordata
Kelas              : Ostichytes
Ordo               : Porciformes
Family             : Cicidae
Genus              : Oreochromis
Spesies            : Oreochromis niloticus
























3.      METODOLOGI
3.1  Alat dan Fungsi
Alat-alat yang digunakan pada praktikum transport membrane sel adalah :
-          Mikroskop                         : Untuk mengamati sel darah ikan.
-            Objek glass                       : Untuk tempat darah ikan agar dapat diamati pada                                            mikroskop.
-          Gelas Ukur 100 ml             : Untuk mengukur aquades.
-          Pipet Tetes                         : Untuk mengambil cairan dalam skala kecil.
-          Spatula                               : Untuk menghomogenkan larutan.
-          Sendok Tanduk                  : Untuk mengambil NaCl padat.
-          Sectio Set                           : Untuk membedah ikan.
-          Beaker Glass 50 ml             : Untuk wadah larutan sementara.
-          Nampan                              : Sebagai wadah alat dan Bahan.
-          Jaring                                  : Untuk menangkap ikan dari dalam aquarium.
-          Timbangan                          : Untuk menimbang NaCl yang dibutuhkan.
-          Washing Bottle                    : Sebagai wadah aquades.
-          Cover Glass                        : Untuk menutup objek glass dengan kemiringan 450 .
3.2  Bahan dan Fungsi
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum transport membrane sel adalah :
-          Ikan Nila               : Sebagai objek yang akan diamati sel darahnya.
-          NaCl Kristal          : Untuk membentuk larutan NaCl dengan konsentrasi 0,3 M dan 0,5 M.
-          Aquades                ; Sebagai pelarut dalam mebuat larutan.
-          Air kran & Tissue  : Untuk membersihkan alat yang telah digunakan.
-          Lap Basah             : Untuk membalut ikan ketika dikeluarkan dari aquarium agar tetap hidup.
-          Kertas label           : Untuk memberi tanda pada beaker glass.
-          Kertas Sobekan     : Sebagai alas saat menimbang NaCl.









3.3  Skema Kerja


























4.      PEMBAHASAN
4.1  Data Hasil Pengamatan
Larutan NaCl 0,3 M
Berdasarkan data hasil pengamatan pada saat praktikum diketahui data sebagai berikut :
Waktu (menit)
Gambar
Pengamatan


1

Sel darah merah ikan nila kelihatan gelap dan agak besar.





5



Sel darah merah ikan nilamengecil dan lebih jelas.


10


Sel darah merah ikan nila mengecil dan lebih kental.
Larutan NaCl 0,5 ml
Waktu (menit)
Gambar
Pengamatan


1



Sel darah merah ikan nila terlihat besar dan jelas.



5
Semakin kecil dan gelap.


10
Sel darah merah ikan nila semakin kecil dan menggumpal.








Larutan Aquades Steril
Waktu (menit)
Gambar
Pengamatan


1



Sel darah merah ikan nila terlihat normal.



5
Sel darah merah mengembang disebut hemolysis.


10
Sel darah merah ikan nila mengembang dan menyatu dengan larutan..

4.2  Analisa Prosedur
Pada praktikum fisika dasar dengan materi transport membrane sel, pertama disiapkan alat dan bahan. Alat yang digunakan adalah mikroskop, objek glass, gelas ukur 100 ml, pipet tetes, spatula, sendok tanduk, section set, beaker glass 50 ml, nampan, jarring, timbangan, washing bottle, cover glass. Bahan-bahan yang digunakan adalah ikan nila, NaCl, aquades, air kran, tissue, lap basah, kertas label, kertas sobekan.
Sebelum pembedahan dimulai dibuat larutan 0,7 gram dan 0,4 gram yang sudah melalui proses perhitungan. Cara penimbangannya adalah nyalakan stop kontak, tekan tombol netral, lalu mulai menimbang NaCl. Setelah proses menimbang selesai, dibuat larutan NaCl dengan konsentrasi 0,3 M dan 0,5 M. Mekanismenya adalah tuangkan NaCl 0,7 gram dan 0,4 gram ke dalam beaker glass 50 mlyang berbeda lalu tuangkan aquades ke dalam beaker glass yang sudah berisi NaCl 0,7 gram dan 0,4 gram masing-masing dengan konsentraso 0,3 M dan 0,5 M. Lalu diaduk sampai menjadi larutan, diaduk dengan spatula yang berbeda agar konsentrasi larutannya tidak berubah.
Setelah proses penimbangan dan pembuatan larutan selesai, diambil ikan nila dalam aquarium dengan menggunakan jaring. Setelah itu letakkan ikan nila diatas nampan dan balut dengan lap basah agar ikan nila tetap hidup. Setelah itu bedah ikan nila dari pertemuan linea literalis sampai ujung pangkal sirip caudal dengan menggunakn section set, lalu ambil darahnyadengan menggunakan spuit diposible dan letakkan darah tersebut di atas objek glass. Masing-masing 3 objek glass lalu teteskan larutan NaCl 0,3 M dan 0,5 M pada masing-masing objek glass yang sudah berisi darah ikan nila. Kemudian tutup objek glass menggunakan cover glass, lalu letakkan objek glass pada meja preparat lalu atur lensa objektif dan fokusnya dengan pembesaran 40x lalu diamati perubahan dan
4.3  Analisa Hasil
Dari pengamatan yang sudah dilakukan yaitu melalui pengamatan gambar sel yang ditetesi larutan NaCl 0,3 M gambar selnya pada menit pertama gambar selnya besar. Setelah menit kelima gambar selnya normal dan pada menit kesepuluh selnya mengerut dan menecil mengalami peristiwa osmosis.
Pada pengamatan sel darah ikan nila yang ditetesi larutan NaCl 0,5 M, selnya pada menit pertama besar lalu pada menit kelima selnya normal dan pada menit kesepuluh selnya semakin kecil, perbedaannya pada pengamatan sel darah ikan nila yang ditetesi larutan NaCl 0,3 M adalah kecepatan perubahan selnya karena pada larutan NaCl 0,5 M lebih pekat dibandingkan dengan larutan 0,3 M sehingga semakin pekat larutan, maka semakin cepat sel itu mengecil mengalami peristiwa osmosis.
Pada pengamatan sel darah ikan nila yang ditetsi dengan larutan aquades, bentuk selnya pada menit pertama kecil, lalu pada menit kelima selnya normal dan pada menit kesepuluh selnya semakin besar, karena larutan yang berada di luar sel masuk ke dalam sel, hal ini disebut dengan peristiwa difusi.
Dalam pembuatan larutan dihitung beberapa gram NaCl yang harus dibuat dalam larutan dengan cara perhitungan NaCl 0,3 M dan 0,5 M adalah :






Molekul-molekul berukuran kecil misalnya oksigen, berdifusi lebih cepat dan pada molekul-molekul berukuran besar seperti CO2 berdifusi lebih lambat. Molekul-molekul yang larut dalam air berdifusi lebih cepat daripada molekul yang tidak larut dalam air.
Jika kita meletakkan sel darah merah dalam suatu larutan hipertonik, air yang terdapat pada sel darah akan ditarik keluar olah sel sehingga sel mengkerut dan rusak, peristiwa ini disebut krenasi. Sebaliknya jika kita meletakkan sel darah merah pada larutan hipotonik, air yang terdapat pada sel darah akan ditarik ke dalam sel sehingga sel akan mengembang, peristiwa ini disebut hemolysis.












5.      PENUTUP
5.1  Kesimpulan
Dari praktikum fisika dasar materi transport membrane sel dapat disimpulkan bahwa :
-          transpor membrane sel adalah perpindahan molekul melalui membrane semi permeable.
-          Transport membrane aktif adalah gerakan molekul atau ion secara terus menerus melwan gradient konsentrasinya.
-          Transport membrane pasif adalah gerakan molekul atau ion secara terus menerus searah dengan gradient konsentrasinya.
-          Difusi adalah perpindahan molekul suatu zat dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah, baik melalui membrane atau tidak.
-          Osmosis adalah proses perpindahan atau pergerakan zat pelarut dari larutan yang yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi rendah.
5.2  Saran
Adapun saran yang diberikan adalah lebih memperdalam materi ini agar kita memahaminya lebih maksimal dan dapat membedakan antara difusi dan osmosis.




























DAFTAR PUSTAKA
-            Amintukin. 2008. Osmosis. Jakarta: Erlangga.
-            Atik. 2011. Ikan nila. http://imagegoogle.co.id/image . Diakses tanggal 15 November 2011 pukul 13.00 WIB.
-            Aurilia, Yani. 2008. Macam-macam sel. Bandung: garba Wilda.
-            Campbell, et al. 1999. Difusi. http://imagegoogle.co.id/image. Diakses tanggal 15 November 2011 pukul 13.00 WIB.
-            Daude, Avile. 1999. Klasifikasi ikan. Bandung : gelora aksara.
-            Kinball. 1993. Osmosis. http://imagegoogle.co.id/image. Diakses tanggal 15 November 2011 pukul 13.00 WIB.
-            Kinball, John W. 1993. Biologi. Jakarta : Erlangga.
-            Linnaeus. 1982. Biologi umum. Jakarta : Yudhistira.
-            Morigan, Gary G. 2008. Cellular physiology of nerve and muscle. 350 main street : USA.
-            Nicholas. 1998. Biologi kelima jilid 1. Jakarta : Erlangga.
-            Pudjianto, Sri. 2006. Menjelajah dunia biologi. Solo : pustaka Mandiri.
-            Riondi. 2009. Biologi piranti. Jakarta : Gramedia.
-            Sastrodinoto, Soenaryo. 1987. Biologi umum. Jakarta : Gramedia.
-            Shim dan Lim. 2001. Biologi umum. Jakarta : Gramedia.



















 





BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hukum ohm terdiri atas dua bagian diantaranya adalah defisa hambatan yaitu V = IR, hubungan ini disebut hubungan Ohm. R adalah suatu konstanta yang tidak tergantung pada V atau I. Hubungan antara V = I.R bisa diterapkan pada jenis resistor apa saja. Yang memiliki keterangan V adalah beda potensial kedua ujung hambatan. I adalah arus dan R adalah yang memiliki arti hambatan resistor tersebut.
Hambatan merupakan penghantar terhadap aliran muatan yang penyebabnya adalah sebuah benturan yang terjadi antara elektron-elektron yang bergerak dengan atom-atom stasioner.
1.2. Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dari diadakannya praktikum fisika dasar mengenai hukum ohm adalah untuk memperkenalkan kepada pratikan tentang rangkaian seri dan paralel tentang macam-macam alat ukur arus listrik (ampere meter, volt meter untuk mengukur tegangan arus listrik serta tegangannya).
Adapun tujuan diadakannya praktikum Fisika dasar mengenai hukum ohm adalah untuk menentukan tahapan suatu penghantar (R), kuat arus (I), dan tahanan listrik (V) dalam suatu rangkaian dengan mengungkap prinsip hukum ohm
1.3. Waktu dan Tempat
Praktikum fisika dasar mengenai hukum ohm dilaksanakan pada hari senin saja tanggal 17 oktober 2011 pada pukul 16.50-19.00 WIB di laboratorium IIP (Ilmu-ilmu Perairan) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya Malang.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Hukum Ohm
Hukum ohm adalah suatu pernyataan bahwa besar arus listrik yang mengalir melalui sebuah pengamatan selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan kepadanya atau juga menyatakan bahwa besar arus listrik yang mengalir pada suatu konduktor pada suhu tetap sebanding dengan beda potensial. Antara ujung-ujung konduktor (Resnik, 1999).
Hubungan antara tegangan dan hambatan ini disebut hukum ohm. Ditemukan oleh George Simon Ohm dan dipublikasikan pada sebuah paper pada tahun 1820. The Galvonic Arevit Investigated Mathomatically. Prinsip ohm ini adalah besarnya arus listrik yang mengalir melalui sebuah penghantar metal pada rangkaian, ohm menentukan sebuah persamaan yang simpel menjelaskan hubungan antara tegangan, arus dan hambatan yang saling berhubungan (Instrument, 2011).
2.2. Hukum Kirchoff
   2.2.1. Hukum Kirchoff 1
Dipertengahan abad 19 Gustav Robert Kirchoff (1824-1887) menemukan cara untuk menentukan arus listrik pada rangkaian bercabang yang kemudian dikenal dengan hukum Kirchoff. Hukum ini berbunyi “Jumlah kuat arus yang masuk dalam titik percabangan sama dengan kuar arus yang keluar dari titik percabangan”. Yang kemudian dikenal sebagai hukum Kirchoff 1. Secara matematis dinyatakan
  (Yuniardo, 2011)
Menurut Purnomo (2008), hukum Kirchoff 1 adalah jumlah aljabar dari arus listrik pada suatu titik percabangan selalu sama dengan nol, tentang arus (current law), yang menyatakan bahwa arus masuk pada suatu titik percabangan akan sama dengan arus yang keluar melalui titik yang sama.
2.2.2. Hukum Kirchoff 2
Menurut Mustafa (2009), di dalam rangkaian tertutup, jumlah aljabar antara gaya gerak listrik (1991) dengan kerugian-kerugian tegangan selalu sama dengan nol. Menyatakan bahwa jumlah tegangan-tegangan di dalam satu rangkaian tertutup sama dengan 0 (nol).
Jumlah aljabar tegangan selalu sama dengan nol. Perhatian = Bila arus listrik sesuai dengan arah lintasan tertutup diambil , maka 1 bertanda positif. Bila arah arus berlawanan dengan arah lintasan tertutup yang diambil, maka I bertanda negatif (-). Untuk gaya gerak listrik atau GGlnya bila arah bertanda positif (+) sedangkan pada saat arah lintasan dari kutub negatif (-) ke kutub positif maka F bertanda (-) (Yuniardo, 2011).
2.3. Rangkaian Seri
Pada rangkaian beberapa resistor yang disusun seri, maka dapat diperoleh nilai resistor totalnya dengan menjumlah semua resistor yang disusun seri tersebut. Hal ini mengacu pada pengertian bahwa nilai kuat arus di semua titik pada rangkaian seri selalu sama (Sabrina, 2010).
Pada susunan seri beberapa sumber tegangan nilai GGlnya (v sumber) merupakan jumlah beberapa ggl yang membentuk susunan seri tersebut atau dengan kata lainnya secara matematis GGlnya itu jumlah dari setiap titik sehingga jika memenuhi hukum Kirchoff, jumlah tegangan dalam satu rangkaian tertutup adalah nol (Suganol, 2009).
Description: C:\Documents and Settings\Admin\My Documents\Downloads\rangkaian-seri1.png



2.4. Rangkaian Paralel
Pada rangkaian paralel beberapa sumber tegangan disebut GGlnya dapat digunakan untuk satu GGl yang sumber-sumber tegangannya merupakan rata-rata dari sumber-sumber tegangan yang tersusun paralel tersebut. (Sugandi, 2009).
Pada rangkaian beberapa resitor totalnya mengacu pada pengertian bahwa besar kuat arus yang masuk ke percabangan sama dengan kuat arus yang keluar percabangan (Sabrina, 2010).
Description: C:\Documents and Settings\Admin\My Documents\Downloads\rangkaian-paralel1.png
2.5. Manfaat di Bidang Perikanan
Hukum Ohm berfungsi untuk mempelajari kelistrikan di bidang akademik perikanan, seorang berpendapat fasilitas simulator elektrik. Ada beberapa macam alat yang digunakan dalam praktiknya. Simulasi kontrol motor, dan simulasi rangkaian (Raider, 2010).








BAB III
METODOLOGI
3.1. Alat dan Fungsi
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum fisika dasar mengenai hukum ohm yaitu  :
Ø  Power Supply : Sumber energi yang memakai arus DC dan AC
Ø  Bola Lampu                      : Indikator adanya arus listrik yang mengalir pada rangkaian
Ø  Resistor                             : Menghambat arus listrik yang mengalir
Ø  Kabel Penghubung       : Menghubungkan rangkaian
Ø  Penjepit Buaya              : Menghubungkan arus rangkaian
Ø  Voltmeter                        : Mengukur tegangan arus listrik
Ø  Amperemeter                : Mengukur besar kuat arus yang mengalir pada rangkaian.

Disiapkan alat
 
3.2. Skema Kerja


















3.3. Gambar Rangkaian
3.3.1. Rangkaian Seri
Description: CCF30112011_00001










3.3.2  Rangkaian Paralel
                                                                                                     
Description: CCF30112011_00001




















BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Analisa Prosedur
Rangkaian Seri
Pada praktikum fisika dasar mengenai hukum ohm, langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan menyiapkan alat dan bahan, diantaranya power supply, bola lampu, resitor, kabel penghubung, penjepit buaya,voltmeter, amperemeter. Kemudian alat-alat tersebut dirangkai secara seri lalu nyalakan stop kontak dan diatur pada tegangan 9 volt dan 120 volt dan tahanan gesernya diatur dari , 0,2 , 0,33, 0,5 , dan 1. Lalu diamati nyala lampunya dan dihitung perhitungan yang ada pada amperemeter dan voltmeternya lalu dicatat.
Rangkaian Paralel
Pada praktikum fisika dasar mengenai hukum ohm, langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan menyiapkan alat dan bahan, diantaranya power supply, bola lampu, resitor, kabel penghubung, penjepit buaya,voltmeter, amperemeter. Kemudian alat-alat tersebut dirangkai secara paralel lalu nyalakan stop kontak dan diatur pada tegangan 9 volt dan 120 volt dan tahanan gesernya diatur dari , 0,2 , 0,33, 0,5 , dan 1. Lalu diamati nyala lampunya dan dihitung perhitungan yang ada pada amperemeter dan voltmeternya lalu dicatat.
4.2. Data Hasil Pengamatan

No
Tegangan
Sumber (v)
Lampu 1
Lampu 2

Seri
Paralel
Seri
Paralel
9

v

1
+
+
++
++
2
0,22
+
+
++
++
3
0,33
+
+
++
++
4
0,5
+
+
++
++
5
1
+
+
++
+
12


v
1
+++
++
+++
+++
2
0,22
++
++
++
+++
3
0,33
++
++
+++
+++
4
0,5
+
++
++
++
5
1
+
+
++
+


No
Tegangan
Sumber (v)
Lampu 1
Lampu 2

V
I
V
I
9

v

1
7,5
2,5
6,5
2,6
2
0,22
6,5
2,6
6,5
2,5
3
0,33
6
2,4
6
2,4
4
0,5
6
2,4
5,5
2,4
5
1
5
2,3
5
2,2
12


v
1
9
3,2
9
3,1
2
0,22
9
2,9
9
3,2
3
0,33
8,5
2,9
8,5
3
4
0,5
8
2,8
7
2,9
5
1
7,5
2,7
7
2,7

4.3. Perhitungan
Ø  Rangkaian Seri 9 v
 
 
 
 
 
 
        
 


Ø  Rangkaian Paralel 9 v
 
 
 
 
 
 
       
 
 

Ø  Rangkaian Seri 12 v

 
 
 
 
 
 
        
 
 

Ø  Rangkaian Paralel 12 v
 
 
 
 
 
 
        
 
 

No
Tegangan
Lampu Seri
Lampu Paralel

 Sumber
R
R
1
1,1.10-1
1,21. 10-2
7. 10-2
4,9. 10-5
2
9
3,9. 10-1
1,52. 10-3
1,7. 10-1
2,89. 10-2
3
Volt
-3,9. 10-1
-1,52. 10-3
7. 10-2
4,9. 10-5
4
-3,9. 10-1
-1,52. 10-3
-1,4. 10-1
1,96. 10-2
5
-7,2. 10-1
-5,18. 10-3
-1,6. 10-1
2,56. 10-2
1
-8. 10-1
-6,4. 10-5
2. 10-1
4. 10-2
2
12
2,1. 10-1
4,41. 10-2
1,1. 10-1
1,21. 10-2
3
Volt
4. 10-2
1,6. 10-5
1,3. 10-5
1,69. 10-2
4
-4. 10-2
-1,6. 10-5
-2,9. 10-1
8,4. 10-2
5
-1,1. 10-1
-1,21. 10-2
-1, 1. 10-1
1,21. 10-2
2,18. 10-2
12,16
13,54
1,65. 10-1

Ø  Ralat Mutlak (A) Paralel                                            
 
 
 
 
Ø  Ralat Nisbi (I)
 
 
 
Ø  Keseksamaan
 
 
 
Ø  Hasil praktikum
                                                                    
                                              
                                                                                   = 2,377

Ø  Ralat Mutlak (A) Paralel                                            
 
 
 
 
Ø  Ralat Nisbi (I)
 
 
 
Ø  Keseksamaan
 
 
 
Ø  Hasil praktikum
                                                                    
                                                    
                                                                                     = 2,785
4.4. Analisis Hasil
Dari hasil Praktikum Fisika Dasar mengenai Hukum Ohm diperoleh hasil pengamatan bahwa lampu seri pada tegangan 9 v mempunyai , , dan . Pada ralat mutlak mendapatkan hasil , ralat nilai mendapatkan hasil . Ralat nilai mendapat hasil 5,12 % dan keseksamaan 94,88 %. Sedangkan Hp1 = 2,544  dan Hp2 = 2,296 .
Lalu pada lampu paralel pada tegangan 9 volt mempunyai ,06, dan . Pada ralat mutlak mendapatkan hasil  Ralat nisbi mendapat hasil 1,76 % dan keseksamaan 98,24 %. Sedangkan Hp1 = 2,454  dan Hp2 = 2,3694 .
Lampu seri pada tegangan 12 volt mempunyai , dan . Pada ralat mutlak mendapatkan hasil , ralat nisbi mendapat hasil 3,45 % dan keseksamaan 96,55 %. Sedangkan Hp1 = 2,819  dan Hp2 = 2,629 .
Lampu Paralel pada tegangan 12 volt mempunyai , dan . Pada ralat mutlak mendapatkan hasil , ralat nisbi mendapat hasil 2,62 % dan keseksamaan 97,38 %. Sedangkan Hp1 = 2,935  dan Hp2 = 2,785 .


























BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Dari praktikum yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa :
Ø  Hukum ohm adalah benda potensial antara 2 titik dalam konduktor yang dialiri arus adalah sebanding dengan besarnya arus dikalikan dengan tahanan konduktornya.
Ø  Rangkaian seri adalah satu rangkaian listrik yang secara sejajar.
Ø  Rangkaian paralel adalah salah satu rangkaian listrik secara berderet
Ø  Lampu seri pada tegangan 9 volt, , dan . Pada ralat mutlak mendapatkan hasil , ralat nilai mendapatkan hasil . Ralat nilai mendapat hasil 5,12 % dan keseksamaan 94,88 %. Sedangkan Hp1 = 2,544  dan Hp2 = 2,296
Ø  Lampu paralel pada tegangan 9 volt , ,06, dan . Ralat mutlak  Ralat nisbi 1,76 % dan keseksamaan 98,24 %.  Hp1 = 2,454  dan Hp2 = 2,3694 .
Ø  Lampu seri pada tegangan 12 volt , , dan . Ralat mutlak , ralat nisbi 3,45 % dan keseksamaan 96,55 %. Hp1 = 2,819  dan Hp2 = 2,629 .
Ø  Lampu Paralel pada tegangan 12 volt,  , dan . Ralat mutlak , ralat nisbi 2,62 % dan keseksamaan 97,38 %. Sedangkan Hp1 = 2,935  dan Hp2 = 2,785 .
5.2. Saran
Waktu praktikum harap praktikan memperhatikan agar bisa mengerti. Dan juga saat membimbing asisten harus sabar.







DAFTAR PUSTAKA
Google, image.com. http://rangkaianseri-paralel/ Diakses pada tanggal 16 Oktober 2011 pukul 19.30 WIB. 
Instrument, Depok. 2011. http://depokinstrument.com/2011/02/14/hukum-ohm/ diakses pada tanggal 16 Oktober 2011 pukul 10.oo WIB
Purnomo. 2008. http://sidikpurnomo.net/pembelajaranfisika/hukum-kirchoff. diakses pada tanggal 16 Oktober 2011 pukul 19.30 WIB
Raider. 2010. Dasar-dasar fisika versi diperluas jilid 2. Jakarta : Bima Rupa Aksara
Resnik. 1999. Pengertian Hukum Ohm dan Beberapa Rangka Lainnya. Bandung : ESIS
Sabrina. 2009. Pengertian Hukum Kirchoff II Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Sugandi. 2009. Listrik. Magnihri. Bandung : Alumni.
Yuniarto. 2011. http://Jayaelectric.com/hukum.kirchoff/ diakses pada tanggal 16 Oktober 2011 pukul 19.30 WIB.






1.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sejak abad ke-19, pengertian manusia tentang gelombang elektromaknetik telah berkembang pesat. Saat ini diketahui bahwa gelombang elektromagnetik memiliki sprektum yang luar biasa luasnya. Dilihat dari panjang gelombang, gelombang elektromagnetik memiliki rentang dari yang memiliki panjang gelombang lebih kecil dari jari-jari atom sampai yang memiliki panjang gelombang lebih kecil dari jari-jari atom samapai yang memiliki panjang gelombang puluhan meter (Astra, I Made dan Hilman, 2006) .
Gerak gelombang dapat dipandang sebagai perpindahan energi dan momentum dari satu titik didalam ruang ketitik lain tanpa perpindahan materi. Pada gelombang mekanik, seperti pada tali atau gelombang bunyi di udara. Energi dan momentum dipindahkan dari gangguan pada tali dijalarkan dalam medium. Tali bila dipetik atau digesek dan gangguan pada tali dijalarkan sepanjang tali. Pada saat yang bersamaan, tali yang bergetar menghasilkan sedikit perubahan pada tekanan udara sekitarnya dan perubahan tekanan ini dijalarkan sebagai gelombang bunyi udara (Paul, 2003 ) .
Gelombang bunyi adalah gelombang longitudinal. Gelombang bunyi tersebut dapat dijalarkan didalam benda padat dan cair. Bunyi merupakan salah satu contoh gelombang longitudinal yang membutuhkan medium. Gangguan dijalarkan dalam medium melalui interaksi-interaksi molekulnya. Getaran molekul tersebut berlangsung sepanjang arah gelombang (Dahlan, 2008) .

1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum Fisika Dasar tentang Resonansi Bunyi ini adalah agar praktikan dapat memahami meteri resonansi bunyi, serta mengetahui terjadinya resonansi bunyi pada frekuensi tertentu.
            Sedangkan tujuan dari praktikum Fisika Dasar tentang Resonansi Bunyi ini adalah untuk menentukan kecepatan bunyi di udara pada suhu kamar dengan panjang gelombang dan frekuensi yang telah ditentukan dengan kecepatan bunyi suhu 0° C.

1.3 Waktu dan Tempat
Praktikum Fisika Dasar tentang Resonansi Bunyi dilaksanakan pada hari Senin, 10 Oktober 2011. Pukul 16.30-19.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Hidrobiologi gedung C lantai 1 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Gelombang
            2.1.1 Pengertian Gelombang
            Getaran serupa pada dua titik gelombang beramai-ramai dalam arah yang sama sebagai partikel dimana titik A dan C bergetar dengan fase yang sama. Karena mereka bergerak keatas dan kebawah bersama-sama. Gelombang dapat diperoleh apabila dalam suatu bili (atau dalam rotasi serupa). Gelombang berdiri yang amplitudonya menjadi lebih besar (Federick, 1989) .
            Gelombang adalah rentalan putus-putus yang timbul karena akan menjalani dengan suhu kecepatan bergantung pada sifat medium (Zemeskri, 2007) .
            2.1.2 Jenis-Jenis Gelombang
        Ada beberapa jenis gelombang yang diketahui antara lain:
        1. Gelombang menutut arah rambatnya
            a. Gelombang transversal: gelombang yang arah geraknya tegak lurus terhadap rambatannya, sebagai contoh pada permukaan air.
            b. Gelombang longitudinal: kecepatan gerakan sejajar dengan arah rambatnya.
        2. Gelombang menurut amplitude dan fasenya
            a.  Gelombang berjalan adalah gelombang yang amplitudonya dan fasenya sama disetiap titik yang dilalui gelombang.
            b. Gelombang diam: gelombang yang amplitudonya dan fasenya berubah disetiap titik yang dilalui setiap gelombang.
        3. Gelombang menurut media perantara
            a. Gelombang mekanik adalah gelombang yang didalam perambatannya memerlukan medium perantara.
            b. Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang didalam rambatannya tidak memerlukan medium perantara.
Menurut Aryadi (2010), macam gelombang menurut arah getarnya:
-       Gelombang transversal adalah gelombang yang arah getarnya tegak lurus terhadap arah rambatnya
-        Gelombang longitudinal adalah gelombang yang arah getarannya sejajar/berhimpit dengan arah rambatnya.
Menurut Aryadi (2010), macam gelombang menurut amplitudo dan fasenya:
-       Gelombang berjalan adalah gelombang yang amplitudo dan fasenya sama disetiap titik yang dilalui gelombang.
-       Gelombang stasioner adalah gelombang yang amplituo dan fasenya berubah (tidak sama) di setiap titik yang dilalui.
Jenis-jenis gelombang menurut Zemesky (1977) adalah:
            1. Gelombang transversal (melintang) adalah gelombang partikel tegak lurus pada arah rambatan gelombang
            2. Gelombang longitudinal (membujur) adalah gelombang partikel bergetar dalam arah gelombang.

2.3 Pengertian Bunyi
            Gelombang bunyi adalah gelombang mekanis longitudinal . gelombang bunyi tersebut dijalankan didalam benda padat, dan benda cair, bunyi merupakan salah satu contoh gelombang longitudinal yang membutuhkan medium(gelombang mekanik). Gelombang itu dihasilkan ketika garputala atau senar biola yang digetarkan dan menyebabkan gangguan kecepatan medium. Gangguan dijalankan di dalam medium melalui interaksi-interaksi molekulnya. Gerakan molekul tersebut b erlangsung sepanjang arah perjalanan gelombangya (Dahlan, 2008).
            Gelombang bunyi adalah gelombang tekanan dalam medium seperti udara, air dan gas. Apabila dari regangan gelombang mengenai selaput pendengar, kita mendebgar bunyi 20-20.000 Hz (Frederick, 1989)/
            Gelombang adalah energi gelombang yang berasal dari sumber bunyi yaitu benda yang bergetar. Gelombang bunyi merupakan gelombang mekanik yang dapat merambat melalui medium. Gelombang bunyi merupakan gelombang longitudinal sehingga mempunyai sinyal-sinyal yang dapat dipantulkan (reflektor) dapat disiarkan (reflekton) dapat ditentukan (difraktion) dan dapat disiarkan (interfraktion) (Dahlan, 2008) .

2.4 Aplikasi Gelombang di Bidang Perikanan
Industri perikanan perlu terus menutup mata pada adaness, sehingga gelombang akuakultur mempengaruhi setiap orang pada nelayan untuk professor tuna ikan sedang mengubah ekstra sea food. Pemerintah mempromosi teknologi yang akan mendorong perikanan lebih lanjut lepas pantai dan menciptakan spesies baru untuk tumbuh lebih cepat. Nelayan umumnya tidak menyadari apa yang sedang terjadi disektor budidaya dan kita perlu untuk menyebarkan berita konsumen bahkan lebih buruk dan tidak tau apa yang sedang terjadi saat mencari makanan laut. Mekanika tidak memiliki rasa dari mana asalnya. Bagaimana itu tertangkap dan apa-apa yang sebenarnya. Niklabulo dan tidak label beberapa kali telah menciptakan populas pemberi sea food bahkan tidak tahu bagaimana mengajukkan pertanyaan kita harus menirukan kesadaran jika kita ingin mempengaruhi daya beli konsumen (Aryadi, 2010 ) .
            Komunitas nelayan mulai mendukung pertanyaan bila harus meningkatkan kesadaran jika kita ingin meningkatkan daya beli konsumen selain itu bila digunakan sebagian saluran akuakultur atau mekanik relation dan akuakultur di ZEE (Suryono, 2010) .

























3. METODOLOGI

3.1 Alat dan Fungsi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Fisika Dasar tentang Resonansi Bunyi ini adalah sebagai berikut:
1. Tabung Resonansi  : sebagai media terjadinya dengungan
2. Garpu Tala              : sebagai sumber bunyi pada resonansi dengan frekuensi 512 Hz, 426,6 Hz dan 341,3 Hz
3. Teko                        : sebagai penampang air pada resonansi bunyi
4. Selang                     : sebagai penghubung antara aliran air dan tabung resonansi
5. Alat Pemukul          : untuk memukul garpu tala
6. Jangka Sorong       : untuk mengukur diameter luar dan dalam tabung resonansi
7. Meteran                   : mengetahui  perubahan panjang L1 dan L2
8. Nampan                  : sebagai wadah alat dan bahan

3.2 Bahan dan Fungsi
Bahan yang digunakan dalam praktikum Fisika Dasar tentang Resonansi Bunyi adalah :
1. Air              :sebagai media yang digunakan untuk mengetahui resonansi













3.3 SKEMA KERJA
- Penentuan L1 dan L2



























-      

Garpu tala frekuensi 512 Hz dan tabung resonansi disiapkan
 
garpu tala frekuensi 512 Hz












-      

Garpu tala frekuensi 341,3 hz dan tabung resonansi disiapkan
 
garpu tala frekuensi 341,3 Hz

Diulang dan diukur panjang sebagai L2
 








-      

Garpu tala frekuensi 512 Hz dan tabung resonansi disiapkan
 
garpu tala frekuensi 512 Hz






















































4.PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan















4.2 Perhitungan
Frekuensi 512 Hz
Data A
V1=ג.f
     = 0,6 . 512
     = 307,2 m/s
V2=ג.f
     = 0,71 . 512
     = 365,52 m/s

Frekuensi 426,6
Data A
V1=ג.f
     = 0,6 . 426,6
     = 255,96 m/s
V2=ג.f
     = 0,48 . 426,6
     = 204,77 m/s

Frekuensi 341,3
Data A
V1=ג.f
     = 0,6 . 341,3
     = 204,78 m/s
V2= ג.f
     = 0,71 . 341,3
     = 246,32 m/s
Data B
V1= ג.f
     = 0,68 . 512
     = 348,16 m/s
V2= ג.f
     = 0,71 . 512
     = 363,52 m/s
Data C
V1= ג.f
     = 0,64 . 512
     = 327,68 m/s
V2= ג.f
     = 0,64 . 512
     = 327,68 m/s

Data B
V1= ג.f
     = 0,68 . 426,6
     = 290,088 m/s
V2= ג.f
     = 0,64 . 426,6
     = 302,89 m/s
Data C
V1= ג.f
     = 0,64 . 426,6
     =273,03 m/s
V2= ג.f
     = 0,64 . 426,6
     = 273,03 m/s

Data B
V1= ג.f
     = 0,6 . 341,3
     = 232,08 m/s
V2= ג.f
     = 0,71 . 341,3
     = 242,32 m/s
Data C
V1= ג.f
     = 0,64 . 341,3
     = 218,43 m/s
V2= ג.f
     = 0,64 . 341,3
     = 218,43 m/s

Data A
F=512 Hz
A1=L1=1/4. ג
ג= 4. 0,15
  = 0,6
L2= ¾.ג
    = 4/3 . 0,53
    = 0,71
Data A
L1= ¼.ג
ג=4 . 0,0,19
  = 0,76
L2=3/4. ג
ג= ¾ L2
   = 0,8
Data A
L1=1/4.ג
ג= 4. 0,24
  = 0,96
L2= 3/4 . ג
ג=4/3. 0,75
   = 0,66
Data B
L1= ¼.ג
ג=4. 18
   =72
L2=3/4.ג
 ג= 4/3. 5 g
   = 78,6 g
Data C
L1=1/4.ג
ג=4. 0,16
  = 0,64
L2=3/4.ג
ג=4/3.0,48
=0,64
Data B
L1= ¼.ג
ג=4. 3
   =12
L2=3/4.ג
 ג= 4/3. 20
   =26,67 g
Data C
L1=1/4.ג
ג=4. 0,2
  = 0,8
L2=3/4.ג
ג=4/3.0,61
=0,81
Data B
L1= ¼.ג
ג=4. 25
   =100
L2=3/4.ג
 ג= 4/3. 86
   = 114,67
Data C
L1=1/4.ג
ג=4. 0,22
  = 0,88
L2=3/4.ג
ג=4/3.0,73
=0,97




Perhitungan frekuensi 512 Hz
-Data A
V1= ג.f                                                 V2= ג.f
     = 0,6 . 512                                          = 0,71 . 512
     = 307,2 m/s                                        = 363,52 m/s
-Data B
V1= ג.f                                                 V2= ג.f
     = 0,68 . 512                                        = 0,71 . 512
     = 342,16 m/s                                      = 363,52 m/s
-Data C
V1= ג.f                                                 V2= ג.f
     = 0,64 . 512                                        = 0,64 . 512
     = 327,68 m/s                                      = 327,68 m/s
Frekuensi 426,6 Hz
-Data A
V1= ג.f                                                 V2= ג.f
     = 0,6 . 426,6                                       = 0,48 . 426,6
     = 255,96 m/s                                      = 204,27 m/s
-Data B
V1= ג.f                                                 V2= ג.f
     = 0,68 . 426,6                                      = 0,64 . 426,6
     = 290,088 m/s                                    = 302,89 m/s
-Data C
V1= ג.f                                                 V2= ג.f
     = 0,64 . 426,6                                      = 0,64 . 426,6
     = 273,03 m/s                                      = 273,03 m/s
Frekuensi 341,3 Hz
-Data A
V1= ג.f                                                 V2= ג.f
     = 0,64 . 341,3                                     = 0,64 . 341,3
     = 218,43 m/s                                      = 218,43 m/s
ƩV1= V1A+V1B+V1C                                    f=426,6 Hz
      =307,2+348,6+327,68                  ƩV1=V1A+V1B+V1C
      =983,48 m/s                                         =255,96+290,088+273,03
f=341,3 Hz                                                                  3
                                                                   = 273,026m/s

ƩV1=V1A+V1B+V1C
       =209,78+232,08+218,98
                        3
       = 226,11 m/s
f=512 Hz                                                                     f= 426,6 Hz
ƩV2=V2A+V2B+V2C                                                 ƩV2=V2A+V2B+V2C                              
 = 363,53+363,52+327,68                                                 =209,77+302,89+273,03
                        3                                                                                  3
       = 351,57 m/s                                                               = 260,23 m/s
f=341,3 hz
ƩV2=V2A+V2B+V2C
=242,32+242,32+218,43  = 234,36 m/s
3
(V1-V2)A2 =(307,2-327,68)2                                    (V1-V2)A2 =(363,52-351,57)2
                 = 419,43                                                          = 142,80
(V-V1)B2=(348,16-327,68)2                                     (V-V1)B2=(363,52-351,57)2
             = 419,43                                                           = 142,80
(V-V1)C2=(327,68-327,68)2                                     (V-V1)C2=(317,68-351,57)2
              = 0                                                                    = 570,57
SX1 A=2                  SX1B=2                    SX1C = 2
                    n(n-1)                                       n(n-1)                                         n(n-1)
            =                             =                                 =
                2(2-1)                                  2(2-1)                                      2(2-1)
            = 20,48 =10,24                      = 20,48 = 10,24                      = 0
                     2                                           2
SX2 A =2                 SX2B=2                    SX2 C =2
                    n(n-1)                                   n(n-1)                                      n(n-1)
=                               =                                  =       
                2(2-1)                                      2(2-1)                                    2(2-1)
            =11,95 = 5,98                          =11,95 = 5,98                         =23,89 = 11,95
                 2                                                 2                                           2

Ralat nisbi f=512 Hz
I1=Ʃ SX2 x 100%                                                        I2 = Ʃ SX2 x 100%
     V2                                                                              V2
   = 10,24 x 100% = 3,6 %                                               = 5,98 x 100%    = 3,4%
       307,2                                                                            361,52
K1 = 100% . C                                                             K2= 100%- I2
     = 100% . 3,6 %                                                          =100%-3,4%
     = 96,4 %                                                                     = 96,6 %
HP1=SX1+V1                                                                           HP1= SX1-V1
        = 10,24+367,2                                                            =10,29-307,2
        =317,44                                                                      = - 296,96
HP2 = SX2+V2                                                                                                HP2=SX2- V2
       =5,98+363,56                                                               =5,98-363,56
       = 369,50                                                                     = -357,54

Ralat nisbi(426,6 Hz)
I1=ƩSX1 x 100%                                                         I2=ƩSX2 x 100%        
      V1                                                                               V2
   = 5,68 x 100%                                                             = 3,76 x 100%
     255,96                                                                         204,77
   = 1,69 %                                                                     = 1,08%
K1=100%-I1                                                                                      K2=100%-I2
     = 100%-1,69%                                                            =100%-1,08%
     = 98,31%                                                                    = 98,92%
HP1=SX1+V1                                                                                   HP1=SX1-V1
        =5,68+255,96                                                             =5,68-255,96
        =261,64                                                                      = -250,28
HP2=SX2+V2                                                                                   HP2=SX2-V2
        =3,76+242,32                                                             =3,76-242,32
        =252,08                                                                    = -238,56
Ralat nisbi(f=341,3 Hz)
I1=ƩSX1 x 100%                                                         I2=ƩSX2 x 100%        
      V1                                                                               V2
   = 10,76 x 100%                                                           = 11,2 x 100%
     204,78                                                                         242,32
   = 4,81 %                                                                     = 3,22%
K1=100%-I1                                                                                      K2=100%-I2
     = 100%-4,81%                                                            =100%-3,22%
     = 95,19%                                                                    = 96,78%
HP1=SX1+V1                                                                                   HP1=SX1-V1
        =10,76+204,78                                                           =10,76-204,78
        =215,54                                                                      = -794,02

HP2=SX2+V2                                                                                   HP2=SX2-V2
        =11,2+242,32                                                             =11,2-242,32
        =253,52                                                                       = -231,12








           
















4.3 Analisa Prosedur
            Pada praktikum fisika dasar tentang resonansi bunyi . Pertama-tama yang harus dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan. Adapun alat-alat yang digunskan adalah tabung resonansi yang berfungsi untuk mengamati resonansi, teko berfungsi untuk wadah air, selang berfungsu sebagai penghubung antara teko dengan tabung resonansi, garputala berfungsi sebagai alat yang menimbulkan getaran, meteran berfungsi untuk mengukur L1 dan L2, pemukul befungsi untuk memukul garputala, jangaka sorong berfungsi mengukur diameter tabung reaksi. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air yang berfungsi sebagai indikator/ medium untuk menyalurkan bunyi pada praktikum fisika dasar tentang resonansi bunyi garputala yang dipakai berfrekuensi 512 Hz, 346.6 Hz, 341,3 Hz.
4.3.1 Frekuensi 512 Hz
            Pertama-tama yang harus dilakukan adalah menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang akn digunakan, yaitu: garputala dengan frekuensi 512 Hz berfungsi sebagai pencipta getaran, tabung resonansi berfungsi untuk mengamati resonansi, teko berfungsi sebagai wadah air, selang berfungsi penghubung tabung resonansi, penggaris sebagai alat untuk mengukur L1 dan L2, jangka sorong sebagai alat untuk mengukur diameter tabung resonans, pemukul untuk memukul garputala.
            Langkah pertama pukul garputala menggunakan pemukul, didekatkan garputala di mulut tabung resonansi. Apabila sudah ada suara dengungan catat sebagai L1 setelah itu lakukan lagi tetapi dengan cara tirun 1cm samapai terdengar lagi dengungan dan catat sebagai L2.
4.3.2 Frekuensi 426,6 Hz
Pertama-tama yang harus dilakukan adalah menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang akn digunakan, yaitu: garputala dengan frekuensi 426,6 Hz berfungsi sebagai pencipta getaran, tabung resonansi berfungsi untuk mengamati resonansi, teko berfungsi sebagai wadah air, selang berfungsi penghubung tabung resonansi, penggaris sebagai alat untuk mengukur L1 dan L2, jangka sorong sebagai alat untuk mengukur diameter tabung resonans, pemukul untuk memukul garputala.
            Langkah pertama pukul garputala menggunakan pemukul, didekatkan garputala di mulut tabung resonansi. Apabila sudah ada suara dengungan catat sebagai L1 setelah itu lakukan lagi tetapi dengan cara tirun 1cm samapai terdengar lagi dengungan dan catat sebagai L2.
4.3.3 Frekuensi 341,3 Hz
Pertama-tama yang harus dilakukan adalah menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang akn digunakan, yaitu: garputala dengan frekuensi 341,3 Hz berfungsi sebagai pencipta getaran, tabung resonansi berfungsi untuk mengamati resonansi, teko berfungsi sebagai wadah air, selang berfungsi penghubung tabung resonansi, penggaris sebagai alat untuk mengukur L1 dan L2, jangka sorong sebagai alat untuk mengukur diameter tabung resonans, pemukul untuk memukul garputala.
            Langkah pertama pukul garputala menggunakan pemukul, didekatkan garputala di mulut tabung resonansi. Apabila sudah ada suara dengungan catat sebagai L1 setelah itu lakukan lagi tetapi dengan cara tirun 1cm samapai terdengar lagi dengungan dan catat sebagai L2.

4.4 Analisa hasil
            Dari hasil praktikum tentang resonansi bunyi diperoleh L1 dan L2. Dan dari data tersebut dapat dicari kecepatan rambat bunyi (V) tetapi terlebih dahulu harus kita cari panjang gelombangnya masing-masing.
            Diperoleh hasil diameter tabung38,3mm, garputala =512 Hz, L1 adalah 18cm dari perhitungan yang didapat ג=0,8m,V1=409,6 m/s, L2=59cm dan ג=0,69m. Cepat rambat gelombang (V2)=353,28 m/s. Untuk penggunaan garputala 426,6 H, L1 dalah 3cm didapatkan ג 0,36m dan V1=153,38 m/s.L2=20cm dan ג=0,24m, cepat rambat gelombang(V2)=102,38 m/s untuk penggunaan garputala 341,3 Hz.L1=25cm ,ג=1,04 m, V1=354,96 m/s, L2=86 cm dan ג=0,78, dan cepat ram,bat gelombang (V2)=266,2 m/s.
            Jumlah keseluruhan Ʃ V1=918,14 dan Ʃ V2=721,86 perhitungan Ʃ ǀV1-V2ǀ2 = 363,617 dan Ʃ ǀ V2-V2ǀ2 = 32,450, SX1= 77,85,SX2=73,54, I dengan rumus ƩSX/V x100%, I1=0,254%, I2= 0,306%, kesamaan L1=99,746% dan keseksamaan L2=99,694%. Dari hasil pengamatan (HP1) SX1+V1=383,91, (HP1)SX1-V1= -228 (HP2) SX2+V2=314,16 , (HP2)=SX2-V22=-167,08.
            Semakin kecil garputala,maka L1 dan L2 semakin besar,untuk L1=1/4 ג dan L2=3/4 ג dan untuk mencari kecepatan V=ג.t














5.PENUTUP

5.1 Kesimpulan
            Dari praktikum fisiska dasar materi resonansi bunyi didapatkan kesimpulan yaitu:
-       Gelombang adalah gerakan yang merambat melalui medium
-       Tiap gelombang mempunyai mekanisme untuk memindahkan energi dari satu titik ke titik lain
-       Jenis gelombang berdasarkan pada getar yaitu gelombang transversal dan longitudinal
-       Jenis gelombang berdasarkan perambatannya yaitu gelombang mekanik dan gelombang elektromagnetik
-       Jenis gelombang betdasarkan amplitudonya yaitu gelombang berjalan dan gelombang stasioner
-       Bunyi adalah bahan gelombang longitudinal yang merambat secara percepatan dan peregangan terbentuk oleh partikel zat perantara serta ditimbulkan oleh sumber bunyi yang mengalami getaran
-       Dengan hasil frekuensi 512 Hz, L1=18 dan L2=59, dengan frekuensi 426, L1=3 dan L2=20cm, dan frekuensi 341,3, L1=25 dan L2=86 cm
5.2 Saran
            Saran yang saya berikan pada praktikum ini adalah praktikan diharapkan agar lebih memahami apa yang akan dilakukan dalam praktikum ini. Perhitungan praktikan yang sistematis adalah hal yang penting dalam praktikum fisika dasar ini. Untuk praktikum selanjutnya diharapkan untuk tidak terjadi keterbatasan alat selanjutnya praktikum dapat berjalan dengan lancar.











DAFTAR PUSTAKA

            Aryadi. 2010 . Aplikasi Gelombang Bunyi . http://www.google.com
            Astra,I Made. 2007 . Fisika untuk SMA dan MA kelas X. Piranti,Jakarta
            Dahlan . 2008 . Bunyi . http://www.wikipedia.com
            Frederick . 1989 . http://www.wordpress.com
            Suryono .2010 . Gelombang pada Kehidupan. http://www.wikipedia.com
            Sofyan .2010. Gelombang dan Jenisnya. http://www.sofyan .blogspot.com
            Zemesky .1966 . Fisika untuk Universitas, Mekanika Panas Bum. Yayasan Buku In donesia Bima Cipta,jakarta 























1.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suatu indeks bias dan salinitas cahaya suatu zat atau kadar garam. Definisi indeks bias cahaya suatu zat itu sendiri adalah kecepatan cahaya dalam ruang hampa yaitu 3.108 cm/s dibagi kecepatan cahaya dalam zat yaitu dalam satuan (cm/s) .
            Kecepatan cahaya dalam sebuah vakum adalah 299.792,458 m/s atau 1.079.252.848,8 km/jam atau 186.286,4 mil/s. Sedangkan kecepatan cahaya dalam ruang hampa adalah 3.108 cm/s .
            Refrakrometer juga memerlukan bantuan sinar dari lampu ataupun penerangan lainnya untuk bisa membaca nilai dari indeks bias dan salinitas(kadar garam) dari suatu zat tertentu. Didalaam refraktometer terdapat alat ukur yang berukuran kecil seperti alat ukur pada termometer. Dimana alat ukur tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu indeks bias terletak pada sebelah kiri dan salinitas terletak di sebelah kanan dengan satuan ppt.

1.2 Maksud dan Tujuan
            Maksud dari praktikum Fisika Dasar tentang Refraktometer ini adalah agar praktiksn bisa mengetahui fungsi dar setiap alat dan bahan yang digunakan serta dapat memahami cara kerja refraktometer itu sendiri.
            Tujuan dari praktikum Fisika Dasar tentang Refraktometer ini adalah mengukur konsentrasi larutan garam dengan menggunakan refraktometer sertta mengukur indeks bias dan salinitas suatu zat.

1.3 Waktu dan Tempat
            Praktikum Fisika Dasar tentang Refraktometer ini dilaksanakan pada hari senin, tanggal 14 November 2011 pukul 16.30 WIB sampai dengan 19.00 WIB di Laboratorium IIP (Ilmu-Ilmu Perairan) gedung C lantai 1 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.






2.Tinjauan Pustaka

2.1 Definisi Refraktometer
            Refraktometer adalah alat ukur untuk menentukan indeks bias cairan atau padat, bahan transparan atau refraktometer. Prinsip pengukuran dibedakan oleh cahaya, penggembalan kejadian, total refleksi, ini adalah pembiasan (reflaksi) total cahaya yang digunakan. Sebagai prisma umum menggunakan semua tiga prinsip, satu dengan indeks bias dikogl (prisma) . Cahaya merambat dalam transisi antara pengukuran prisma dan media sampel(cairan) dengan kecepatan yang berbeda, indeks bias di ketahui dari media sampel diukur dengan defleksi cahaya (Wikipedia, 2010) .
            Kebanyakan objek yang kita lihat tampak karena objek itu memantulkan cahaya kemata kita. Pada pantulan yang paling umum terjadi, cahay memantul kesemua arah disebut pantulan baur. Untuk keperluan ini cukup kita melukiskan satu sinar saja, mustahil ada atau hanya merupakan abstraksi geotrikal saja (Sear,1994) .
            Standart ini berisi antara lain prosedur penentuan indeks bias (n) relative mineral transparan dalam bentuk butiran atau pecahan mineral transparan berukuran (+/-) 0,6 mm atau berat kira-kira 0,01 gr dalm bentuk medium rendam yang diketahui indeks biasnya denagn menggunakan mikroskop dan iliminasi (Badan Standarisasi nasional, 2008) .

2.2 Gambar Refraktometer
Description: D:\dari rama.2\Refraktometer\sal03.jpgDescription: D:\dari rama.2\Refraktometer\Refraktometer\refraktometer.jpg
Wikipedia,2010                       Wikipedia,2010

2.3 Pembiasan Cahaya
            Menurut Nohji (2007), pembiasan cahaya adalah peristiwa penyimpangan atau pembelokkan cahay karena melalui peristiwa penyimpangan atau pembelokkan cahaya karena melalui dua medium yang berbeda kerapatan optiknya. Arah pembiasan cahay dibedakan menjadi dua, yaitu:
            1. Mendekati garis normal
            Cahaya dibiaskan mendekati garis normal jika cahaya merambat dari medium optik kurang rapat ke medium optik lebih rapat. Contohnya cahay merambat dari cahaya (udara) ke dalam air.
            2. Menjauhi garis normal
            Cahaya dibiaskan mendekati garis normal jika cahaya merambat dari medium optik lebih rapat ke medium optik kuranhg rapat. Contohnya cahaya merambat air ke udara.

2.4 hukum Sinellius
            Hukum sinellius adalah hukum rumus matematika yang memberikan hubungan antara sudut datang dan sudut bias pada cahaya atau gelombang lainnya yang melalui batas antara dua medium isotopik berbeda, seperti udara dari gelas. Nama hukum ini diambil dari nama matematikawan Belanda Willboard Sinellius, yang merupakan salahsatu penemuannya. Hukum ini juga dikenal sebagai hukum descartes atau hukum pembiasan (rashed Roshidi,1990).
            Menurut  Kwan, A , Dudleu, J (2002), hukum ini menyebutkan bahwa nisbah sinus sudut datang dan sudut bias adalah konstans yang tergantung pada medium. Perumusan lain yang dcavglen adalah nisbah sudut datang dan sudut bias sama dengan nisbah kecepatan cahaya pada kedua medium, yang sama dengan kebalikan nisbah indeks bias. Perumusan matematis Hukum Sinellius adalah sebagai berikut:
= =  atau n1 Sin 1 = n2 Sin 2
                                                Atau V1 Sin 1= V2 Sin 2
            Pada tahun 1637, Rene Descarter secara terpisah menggunakan argumen heuristic kekekalan momentum dalam bentuk sinus dalam tulisannya “ Discarter on Mothod “ untuk menjelaskan hukum ini. Cahaya dikatakan mempunyai kecepatan yang lebih tinggi pada medium yang lebih padat karena cahaya adalah gelombang yang timbul akibat terusiknya plenum, substansi kontinue yang membentuk alam semesta. Dalam bahsa perancis, hukum sinellius disebut Loide Descarte atau Loide snell- Descarter (Hutabarat, 1986) .

2.5 Indeks Bias Cahaya
            Menurut johan (2008), pembiasan cahaya dapat terjadi karena perbedaan cahay pada medium yang rapat lebih kecil dibandingkan dengan laju cahaya pada medium yang kurang rapat. Menurut cristian Huygens (1629-1695) ; “ Perbandingan laju cahaya dalam ruang hampa denagn laju cahay dalam suatu zat dinamakan indeks bias “ . Rumusnya adalah sebagai berikut:
 n =  
n ≥ 1
Keterangan :   n = indeks bias
                        c = laju cahaya dalam ruang hampa (3x108)
                        v = laju cahaya dalam zat

2.6 Tabel indeks bias
Material
λ(nm)
N

1 (exactly)
1.0002926
Gas @ 0 °C dan 1 atm
589.29
589.29
589.29
589.29
1.000293
1.000036
1.000132
1.00045
Cairan @ 20 °C
589.29
589.29
589.29
589.29
589.29
1.501
1.3330
1.361
1.461
1.628

2.7 Salinitas Air Tawar, Laut dan Danau
            2.7.1 Salinitas Air Tawar
                        Air tawar adalah air murni yang di dalamnya terdapat kandungan garam yang dimana konsentrasinya kurang dari 0.05 % ( 0.05 %) (Nantji, 2007).
            2.7.2 Salinitas Air Laut
                        Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai dan saluran air alami sangat rendah, sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini secara definisi kurang dari 0,5 % . Jika lebih dari itu dikategorikan sebagai air payauatau menjadi saline bila konsentrasi 3-5 % , ini dosebut brine (Nantji, 2007) .
                        Air laut adfalah air murni yang didalamnya terlarut berbagai zat padat dan gas dalam 1000 gr atau 96,6 % berupa air murni dari 3,5 % adalah zat terlarut, jadi ada 35 gr senyawa tersebut secara kolektif disebut garam. Konsentrasi rata-rata seluruh garam yang terdapat didalam air laut disebut salinitas ( Hutabarat dan Evans, 1986).

            2.7.3 Salinitas Air Payau
                        Air payau adalah air tawar yang didalamnya terdapat kandungan garam yang dimana konsentrasinya lebih dari 0,05 % ( 0,05 %) ( Moharto dan Juwana , 2007 ).























3.METODOLOGI

3.1 Alat dan Fungsi
 Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum Fisika Dasar tentang Refraktometer adalah sebagai berikut ini:
Ø  Refraktometer Atago  : untuk mengukur indeks bias dan salinitas suatu zat
Ø  Gelas ukur                  : untuk mengukur volume aquadest yang kita inginkan
Ø  Pipet tetes                   : untuk memindahahkan larutan dalam skala kecil
Ø  Lampu pijar                 : sebagai sumber cahaya
Ø  Timbangan digital        : untuk mengukur massa NaCl 0,04 gr, 0,1 gr, 0,2 gr, 0,3 gr, dan 0,4 gr
Ø  Washing bottle            : sebagai tempat aquades
Ø  Beaker glass               : sebagai tempat atau wadah larutan sementara
Ø  Spatula                        : untuk menghomogenkan larutan
Ø  Sendok tanduk            : untuk mengambil kristal garam
Ø  Nampan                      : sebagai tempat atau wadah dari alat dan bahan

3.2 Bahan dan Fungsi
            Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum Fisika Dasar tentang Refraktometer adalah sebagai berikut ini:
Ø  Garam             : sebagai bahan zat terlarut
Ø  Aquades          : sebagai zat pelarut
Ø  Tissue              : untuk membersihkan alat yang digunakan dalam praktikum
Ø  Kertas label     : untuk menandai beaker glass
Ø  Kertas alas      : sebagai alat untuk menimbang NaCl


3.3 SKEMA KERJA

























4.PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan
            Data hasil pengamatan dari Praktikum Dasar tentang Refraktometer yang telah kami lakukan adalah sebagai berikut:
No.
Garam (gr)
Air (ml)
Konsentrasi (gr(ml.100%)
Indeks Bias
Kecepatan Cahaya
1.
0,04 gr
10 ml
0,04 x 100% = 0,4%
  10

1,004
3.108 = 2,988x108
1,004
2.
0,1 gr
10 ml
0,1 x 100% = 1%
  10

1,010
3.108 = 2,970x108
1,010
3.
0,2 gr
10 ml
0,2 x 100% = 2%
  10

1,018
3.108 = 2,946x108
1,018
4.
0,3 gr
10 ml
0,3 x 100% = 3%
  10

1,028
3.108 = 2,918x108
1,028
5.
0,4 gr
10 ml
0,4 x 100% = 4%
  10

1,033
3.108 = 2,904x108
1,033



     Ʃ = 10,4%
Ʃ = 5,093
N = 1,016
Ʃ = 14,726x108
V = 2,94x108



4.2 Perhitungan
            Dari data hasil pengamatan yang telah dilakukan didapat hasil perhitungan sebagai berikut:
No.
n
(n-n)
(n-n)2
v
(v-v)
(v-v)2
1.
1,004
0,012
0,000144
2,988x108
0,04x108
1,6x1013
2.
1,010
0,009
0,000081
2,970x108
0,03x108
0,9x1013
3.
1,018
0,001
0,00001
2,946x108
0,01x108
0,001x1013
4.
1,028
0,009
0,000081
2,918x108
0,02x108
0,4x1013
5.
1,033
0,008
0,000064
2,904x108
0,03x108
-0,9x1013



Ʃ=0,000371
Ʃ=14,726x108

Ʃ=4,34001


4.3 Indeks Bias
    4.3.1 Ralat Mutlak (A)
                        Dari data hasil Praktikum yang telah dilakukan diperoleh Ralat Mutlak (A) sebagai berikut:
A=2
        N(n-1)
A=                 
        5(5-1)
=    
        20               
= 0,004
     4.3.2 Ralat Naisbi (I)
                        Dari data hasil Praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil Ralat Nisbi sebagai berikut:
I = A x 100%
     N
             = 0,004 x 100%
                 1,016
             = 0,0039x100%
             = 0,39%

                4.3.3 Keseksamaan (K)
                                    Dari data hasil Praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil perhitungan Keseksamaan sebagai berikut:
            K = 100% - I
               = 100% - 0,39%
              = 99,61%

                 4.3.4 Hasil Pengamatan
                                    Dari data hasil Praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut ini:
            HP1 = n + A                                                                HP2 = n - A
                   = 1,01 + 0,004                                                               = 1,01 – 0,004
                   = 1,2                                                                               = 1,012

4.4 Kecepatan Cahaya
       4.4.1 Ralat Mutlak
                        Dari data hasil Praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil perhitungan Ralat Mutlak sebagai berikut ini:
            A=2
                    V(v-1)
A=              
                    5(5-1)



=  
20          
= 0,465

     4.3.2 Ralat Naisbi (I)
                        Dari data hasil Praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil Ralat Nisbi sebagai berikut:
I = A x 100%
     V
             = 0,465x100%
                 0,868
             = 5,35x108

                4.3.3 Keseksamaan (K)
                                    Dari data hasil Praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil perhitungan Keseksamaan sebagai berikut:
            K = 100% - I
               = 100% - 5,35x108
              = 0,9465x108

                 4.3.4 Hasil Pengamatan
                                    Dari data hasil Praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut ini:
            HP1 = v + A                                                                HP2 = n - A
                   = 0,8680002 + 0,065                                                    = 0,8680002 – 0,065
                   = 1,3330002                                                                 = 0,4030002



4.5 Analisa Prosedur
            Sebelum kita melakukan Praktikum Fisika Dasar tentang Refraktometer, peertama-tama adalah disiapkan alat dan bahan. Adapun alat-alat yang harus disiapkan adalah Refraktometer Ataga yang digunakan untuk mengukur indeks bias dan salinitasn suatu zat, Gelas ukur digunakan untuk mengukur volume aquades yang kita inginkan, pipet tetes berfungsi untuk memindahkan larutan dalam skala kecil, Lampu pijar yang berfungsi sebagai sumber cahaya,, timbangan digital yang digunakan untuk mengukur masssa NaCl 0,04 gr, 0,1 gr, 0,2 gr, 0,3 gr, dan o,4 gr, Washing bottle digunakan sebagai tempat atau wadah dari aquades, beacker glass berfungsi sebagai tempat atau wadah dari larutan sementara, Spattula yang berfungsi sebagai penghomogenan larutan, Sendokk tanduk yang digunakan untuk mengambil kristal garam, dan Nampan digunakan sebagai tempat atau wadah dari alat dan bahan. Setelah kita sudah menyiapkan alat-alatnya, hal selanjutnya adalah disiapkan bahan-bahan yang akan digunakan dalam Praktikum kali ini. Adapun bahan-bahan yang digunakan adalah sebagai berikut, Garam yang digunakan sebagai bahan zat terlarut, Aquades digunakan sebagai zat pelarut, Tissue yang berfungsi untuk membersihkan alat yang digunakan dalam Praktikum, Kertas label berfungsi menandai beacker glass, dan kertas alas yang digunakan sebagai alas untuk menimbang NaCl.
            Setelah alat dan bahan telah disiapkan, hal selanjutnya adalah ditimbang garam dengan timbangan digital masing-masing 0,04 gr, 0,1 gr, 0,2 gr, 0,3 gr, 0,4 gr. Kemudian di ukur aquades sebanyak 10 ml dengan menggunakan gelas ukur. Setelah itu, dituangkan garam dan aquades kedalam masing-masing beacker glass yang telah diberi tanda kertas label sebelumnya. Kemudian dihomogenkan dengan menggunkan spatulla. Setelah itu, di ambil masing-masing larutan dengan menggunakan pipet tetes. Kemudian di teteskan pada kaca prisma Refraktometerdan dituutp penutup refraktometer dengan derajat kemiringan 45 . selanjutnya di amati kesumber cahaya dan dilihat skala pada refraktometerpada sisi kanan 9salinitas0 ataupun sisi kir (Indeks bias) dan dicatat hasillnya.

4.6 Analisa Hasil
            Dari Praktikum Fisika Dasar tentang Refraktometer di dapatkan hasil yaitu sebagai berikut :
Ø  Hasil campuran dari 0,04 NaCl dan 10 ml aquades memiliki konsentrasi larutan sebesar 0,4% ; Indeks Bias 1,004 ; kecepatan cahaya 2,970x108 ; dan salinitas garamnya adalah 5PPT.
Ø  Hasil campuran dari 0,1 NaCl dan 10 ml aquades memiliki konsentrasi larutan sebesar 1% ; Indeks Bias 1,010 ; kecepatan cahaya 2,988x108 ; dan salinitas garamnya adalah 13 PPT.
Ø  Hasil campuran dari 0,2 NaCl dan 10 ml aquades memiliki konsentrasi larutan sebesar 2% ; Indeks Bias 1,018 ; kecepatan cahaya 2,946x108 ; dan salinitas garamnya adalah 25 PPT.
Ø  Hasil campuran dari 0,3 NaCl dan 10 ml aquades memiliki konsentrasi larutan sebesar 3% ; Indeks Bias 1,028 ; kecepatan cahaya 2,978x108 ; dan salinitas garamnya adalah 38 PPT.
Ø  Hasil campuran dari 0,4 NaCl dan 10 ml aquades memiliki konsentrasi larutan sebesar 4% ; Indeks Bias 1,033 ; kecepatan cahaya 2,904x108 ; dan salinitas garamnya adalah 43 PPT.



5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
                                    Dari Praktikum fisika Dasar tentang Refraktometer kali ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ;
v  Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur indeks bias serta salinitas suatu zat.
v  Indeks bias cahaya suatu zat adalah kecepatan cahaya didalam ruang hampa dibagi kecepatancahaya didalam suatu zat.
v  Bagian-bagian Refraktometer adalah lensa, kaca prisma, fokes, doulight plate dan tabung.
v  Garam 0,04 gr, air 10 ml, indeks biasnya 1,004 dan salinitasnya 5 PPT.
v  Garam 0,1 gr, air 10 ml, indeks biasnya 1,018 dan salinitasnya 5 PPT.
v  Garam 0,2 gr, air 10 ml, indeks biasnya 1,028 dan salinitasnya 5 PPT.
v  Garam 0,3 gr, air 10 ml, indeks biasnya 1,004 dan salinitasnya 5 PPT.
v  Garam 0,4 gr, air 10 ml, indeks biasnya 1,033 dan salinitasnya 43 PPT.


5.2 Saran
                                    Sebaiknya waktu lebih diperpanjang lagi, karena penjelasan yang diberikan masih belum dipahami dan dimengerti dengan baik.



DAFTAR PUSTAKA


Badan Standarisasi Nasional.2008.Penentuan indeks Bias Relatif Dalam                            Bentuk Butiran Dengann Tekhnik Uji                                                              Bayangan.Online.http://www.goegle.co.id
                        Diakses pada tanggal 15 Oktober 2011 pada pukul 19.10 WIB
Hutabarat, S dan Stewert, M.Evans.1986.Pengantar Oscanografi.                                      http:;//Oseanografi.blogspot.com/2005/07/Salinitas%20.air.laut.html
                        Diakses pada tanggal 15 Oktober 2011 pada pukul 19.15 WIB
Johan, K.2007.http://www.Fisika Dasar.blogspot.com
                        Diakses pada tanggal 15 oktober 2011 pada pukul 19.17 WIB
Kwan, A dan Dudley, Jey.2002.http://www.Hukum-Hukum-                                                            Fisika.blogspot.com
                        Diakses pada tanggal 15 )ktober pada pukul 19.21 WIB
Moharto dan Juwana.2007.Salinitas-Air-                                                                                Payau.http://www.Salinitas.blogspot.com
                        Diakses pada tanggal 15 0ktober 2011 pada pukul 19.25 WIB
Nantji, A.2007.laut Nusantara.Jakarta:Djambatan
Rashed, Roshidi.199-.Hukum Snellius.http://www.wordpress.com
                        Diakses pada tanggal 16 Oktober 2011 pada pukul 20.07 WIB
Sear, john.1994.http://www.Phisical Science.com
                        Diakses pada tanggal 16 Oktober 2011 pada pukul 20.10 WIB
Wikipedia.2010.Refraktometer.http://www.wikipedia.com
                        Diakses padatanggal 16 Oktober 2011 pada pukul 20.30 WIB
Wikipedia.2010.gambar Refraktometer.hhttp://www.wikipedia.com
                        Diakses pada tanggal 16 Oktober 2011 pada pukul 20.45 WIB



I.       PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kalor adalah energy yang terjadi  dari suhu zat yang bersuhu tinggi ke zat yang bersuhu rendah ketika benda tersebut saling bersentuhan. Kemampuan benda atau zat untuk menyerap kalor berbeda, hal ini terjadi karena perbedaan kalor jenisnya yang menyatakan jumlah kalor yang diterima setiap setiap kilogram dan kenaikan suhunya.
Teori yang melandasi tentang tara kalor listrik adalah hokum joule dan asas black. Dimana suatu energy  dapat berubah bentuk menjadi energy lain. Sehingga dikenal adanya kesetaraan panas dengan energy mekanik atau energy listrik.
Arus listrik yang mengalir pada suatu rangkaian juga menghasilkan panas atau kalor. Pada peralatan yang menggunakan arus listrik sebagai sumber energinya, apabila kita aktifkan dalam jangka waktu tertentu maka akan timbul pada bagian rangkaianlistrik yang merupakan tempat dan pusat aktifitas arus listrik. Hal inilah perlu dikaji lebih lanjut mengingat panas bergantung pada beda potensial, arus listrik serta waktu yang diperlukan.
1.2  Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari dari praktikum fisika dasar tentang tara kalor listrik agar praktikum mengetahui nilai dari air pada calorimeter dengan konstanta dan joule.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan besarnya kalori dan besarnya nilai konstanta joule dalam materi praktikum tara kalor listrik.
1.3  Waktu dan Tempat
Praktikum fisika dasar tentang tara kalor listrik hari senin, tanggal 21 November 2011 pada pukul 16.30-19.00 WIB. Bertempat di laboratorium IIP (Ilmu-Ilmu perairan) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.
















II.    TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Pengertian Tara Kalor Listrik
Istilah panas dalam kehidupan sehari-hari berbeda dengan istilah panas dalam pengertian fisika. Pada kehidupan sehari-hari panas tertentu pada benda yang mempunyai suhu tinggi. Pengertianpanas dalam bidang fisika adalah identifikasi dan energy dari satu energy ke energy yang lain karena adanya perbedaan suhu (Kamal, 2010).
Untuk menghitung jumlah perpindahan kalor ke energy listrik dan sebaliknya ini disebut dengan tara kalor listrik sehingga diketahui beberapa jumlah energy produk yang dihasilkan (Putri, 2008).
2.2  Perbedaan Tara Kalor Listrik Dengan Tara Kalor Mekanik Beserta Rumus
Berdasarkan fenomena tersebut kalor jenis suatu benda didefinisikan sebagai jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menahan suhu 1 kg suatu zat sebesar 1 kal. Kalor mekanik inimerupakan khas suatu benda yang menunjukkan kemampuannya untuk menyerap kalor, pada perubahan suhuyang sama (Kamal,2010).
Sedangkan tara kalor listrik adalah jumlah perpindahan kalor ke energy listrik dan sebaliknya perpindahan energy listrik ke energy kalor. Teori yang melandasi tentang arus listrik adalah hokum joule dan asas black dimana suatu energy dapat berubah bentuk menjadi energy yang lain (Daryanto, 2010).
Kalor listrik adalah perbandingan energy listrik dengan panas yang dihasilkan :
Keterangan V : beda potensial antara kawat tahanan (volt)
                     I : kuat arus listrik (A)
                     t : waktu (s)
Kalor mekanik adalah perbandingan energy mekanik terhadap energy listrik :
Keterangan A : massa air
                   B : massa benda
                   K : massa calorimeter
                    T : suhu








2.3  Manfaat Tara Kalor Listrik di Bidang Perikanan
Adapun manfaat tara kalor listrik dibidang perikanan menurut Metana (2010) adalah :
-          Teknik refrigasi adalah teknik pendinginan untuk produk perikanan.
-          Untuk pernafasan ikan.
-          Pemilahan logam untuk pembuatan entalpi.
-          Pengeringan ikan.
-          Mengurangi kelembaban nisbi dengan mengalirkan udara panas ke udara kering.
Proses pendinginan berarti memindahkan panas dari satu lingkungan ke lingkungan lainnya dengan cara-cara tertentu, diperlukan analisa termodinamika serta analisa produk panas dan massa untuk mengetahui proses yang terjadi (Andika, 2008).


















III. METODOLOGI
3.1  Alat dan Fungsi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :
1.    Power supply              : untuk mengubah arus AC menjadi DC.
2.    Voltmeter                    : untuk mengukur tegangan listrik.
3.    Amperemeter              : untuk mengukur kuat arus listrik.
4.    Calorimeter                 : untuk kalor jenis suatu benda.
5.    Thermometer               : untuk mengukur suhu di dalam calorimeter.
6.    Kabel Penjepit Buaya : untuk menghubungkan rangkaian dengan cara menjepit.
7.    Kawat Kumparan        : untuk mengalirkan arus listrik ke dalam calorimeter menjadi energy panas.
8.    Nampan                                   : sebagai wadah alat dan bahan.
9.    Timbangan Digital      : untuk menghitung massa suatu zat dengan ketelitian 10-2.
10.Stopwatch                   : untuk menghitung waktu.
3.2  Bahan dan Fungsi
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
1.      Air                   : sebagai media perambatan kalor.
2.      Tissue              : untuk membersihkan alat yang telah digunakan.











                         


3.3  Skema Kerja





















                                               




3.4  Gambar Rangkaian Tara Kalor Listrik
Text Box: power supply              voltmeter                amperemeter            kalorimeter








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar